Heboh Resesi, Waktunya Serok Saham?

Ketegangan kondisi militer di Eropa, terhambatnya distribusi energi, serta tingginya tingkat inflasi di Amerika Serikat memberikan tekanan terhadap ekonomi global. Selain itu, sentimen negatif dari para investor terhadap situasi yang tidak menentu dan prediksi resesi juga memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kesetabilan ekonomi dan bisnis.

Di kondisi seperti ini, dengan pasar saham yang mulai menurun dari all time-high, apakah ini adalah waktu yang tepat untuk membeli saham? Perlu anda ingat bahwa banyak para investor dunia selalu menyebutkan “never time the market“. Hal ini perlu kita garis bawahi bahwa sangat sulit sekali mengetahui secara pasti kapan kondisi pasar saham akan berada di titik terbawah atau tidak.

Untuk menyikapi hal ini, sebagai investor yang cerdas, ada beberapa langkah yang bisa anda ambil dengan mempertimbangkan faktor peluang dan resikonya sebagai berikut.

1. Be Greedy when Others are Afraid

Salah satu ciri investor sukses dari sejarah masa lalu adalah menjadi contrarian, yaitu be greedy when others are afraid, be afraid when others are greedy. Langkah ini berfokus untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Dengan turunnya pasar saham, saham-saham bagus yang sebelumnya terlalu mahal mungkin saja menjadi sesuai harga wajarnya atau bahkan menjadi undervalued. Tapi, tentu saja dengan tetap memperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut.

a. Fundamental yang Baik

Tetap perhatikan fundamental perusahaan. Jika saham yang anda inginkan adalah perusahaan yang baik dan sebelumnya masih mahal, ini adalah kesempatan anda. Sebisa mungkin tidak tergiur dengan saham-saham perusahaan dengan fundamental yang buruk meskipun dengan harga yang sangat murah mengingat adanya kemungkinan perusahaan tersebut bangkrut ketika krisis terjadi.

Baca Juga: Peranan Fundamental dalam Menentukan Saham Pilihan

b. Jenis Industri yang Sesuai

Mempertimbangkan jenis industri atas saham yang anda pilih juga menjadi faktor yang penting. Sebagai contoh, jika terjadi krisis kelangkaan bahan baku, maka jenis industri manufaktur yang memproduksi barang dengan bahan baku yang terdampak krisis tersebut akan kesulitan menjalankan bisnisnya.

2. Do Noting and Stay Invested

Jika anda sudah “memupuk” portofolio investasi anda selama ini, salah satu langkah bijak adalah tidak termakan headline heboh di berita dan jangan menjual saham secara ceroboh. Lakukan dollar cost averaging seperti yang anda lakukan seperti biasa dan tak perlu terpengaruh hal-hal yang belum pasti. Jika saham-saham yang anda miliki adalah saham dari perusahaan yang bagus, perusahaan tersebut tentu bisa bertahan dari masalah ekonomi makro atau resesi dengan baik.

3. Well Diversified

Investor terkenal seperti Charlie Munger atau Warren Buffet memang pernah menyebutkan bahwa “diversifikasi hanya untuk orang bodoh” atau “diversifikasi hanya untuk orang yang tidak tahu apa yang dia kerjakan”. Memang tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Diversifikasi bertujuan untuk menutupi kebodohan (kelalaian) kita akan hal-hal yang tidak kita ketahui dan tidak kita duga. Jika terjadi krisis dan beberapa saham atau instrumen investasi kita yang terdampak anjlok, maka beberapa saham atau instrumen investasi yang lain yang tidak terdampak dapat meng-cover untuk memperbaiki performa secara keseluruhan.

Baca Juga: Pentingnya Melakukan Diversifikasi Pengelolaan Kekayaan/Investasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *