Wajibkah Diversifikasi pada Portfolio Investasi?

Bagi yang sudah lama berkecimpung di dunia investasi, baik itu saham, reksadana, hingga properti, tentu istilah diversifikasi. Frase “Don’t put all your eggs in one basket” sangat sering digaungkan serta hampir semua fund manager atau financial advisor selalu menyarankan untuk melakukan diversifikasi.

Nyatanya, salah satu investor ternama dunia menyatakan bahwa “diversifications is for idiot” / “Diversification¬†is for people who don’t know what they’re doing” (“diversifikasi untuk orang bodoh” / “diversifikasi untuk orang yang tidak paham apa yang sedang mereka kerjakan”). Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

Pengertian Diversifikasi

Diversifikasi secara harfiah adalah memberi variasi atau penganekaragaman. Dalam hal ini, diversifikasi adalah membuat portfolio kita beraneka ragam, tidak hanya satu macam. Sebagai contoh, jika kita mengalokasikan investasi kita ke beberapa saham dari perusahaan yang berbeda di sektor usaha yang berbeda, artinya kita melakukan diversifikasi pada satu asset class yang sama. Jika kita mengalokasikan investasi kita pada saham, reksadana, dan real estate, maka kita melakukan diversifikasi pada asset class yang berbeda.

Kelebihan dan Kekurangan Diversifikasi

Mengapa kita disarankan untuk melakukan diversifikasi? Pada dasarnya, frase “diversifikasi untuk orang bodoh” tidaklah sepenuhnya salah. Maksud kami, tujuan untuk melakukan diversifikasi resiko adalah sebagai proteksi atas kebodohan (ketidaktahuan) kita terhadap prediksi masa depan dan kelalaian kita dalam melakukan analisa. Dengan begitu diversifikasi akan mengurangi resiko ketika salah satu investasi kita gagal atau menurun nilainya, investasi yang lain akan meng-cover untuk menjaga posisi portfolio kita secara keseluruhan.

Baca Juga: Pentingnya Melakukan Diversifikasi Pengelolaan Kekayaan/Investasi

Selain faktor toleransi resiko, pengetahuan, kemampuan, dan kepercayaan diri, faktor usia juga harus menyesuaikan. Ketika mendekati usia pensiun, akan lebih bijak untuk melakukan diversifikasi mengingat prioritas utamanya adalah resiko yang rendah.

Diversifikasi memang masih sangat relevan bagi sebagian besar orang. Namun di lain sisi, bagi full-time investor, diversifikasi juga bisa mengurangi potensi keuntungan. Sebagai contoh, full-time investor umumnya bisa menghabiskan waktunya untuk melakukan analisa, perhitungan, dan prediksi yang mendalam pada salah satu instrumen investasi (misalkan saham). Ketika investasi yang dimaksud tersebut memiliki performa yang sangat baik sesuai dengan analisa mereka, maka potensi keuntungan mereka bisa saja tertahan akibat sebagian modal mereka digunakan untuk diversifikasi pada investasi lain yang performanya tidak lebih baik.

Bottom Line

Menurut kami, diversifikasi sangat penting bagi sebagian besar orang, khususnya untuk orang yang masih menjalankan full-time job sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan analisa dan perhitungan secara mendalam dalam memilih investasi. Di kondisi seperti ini, menurut kami diversifikasi adalah wajib untuk mengurangi potensi kerugian yang mungkin dialami.

Baca Juga: Investasi: Antara Saham, Reksadana, Dan Deposito

Namun, bagi full-time investor, memilih instrumen investasi secara all-in tanpa diversifikasi sah-sah saja sesuai dengan kapabilitas, toleransi resiko, dan kepercayaan diri terhadap analisanya. Meski begitu, menurut kami diversifikasi masih diperlukan untuk asset class yang berbeda. Paling tidak, ketika terjadi diversifikasi pada asset class yang berbeda ini dapat memberikan perlindungan ketika salah satu jenis investasi mengalami market crash.

*Disclaimer: Kami bukanlah financial advisor dan segala penjelasan di atas bukanlah arahan atau nasehat keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *