SSD Memang Kencang, Tapi Ada Umur Pakainya?

Saat ini, penggunaan SSD (Solid State Drive) sebagai media penyimpanan, khususnya untuk portable device seperti laptop lebih populer dan lebih banyak digunakan dibandingkan dengan HDD (Hard Disk Drive). Meskipun sekarang masih relatif mahal, SSD yang jauh lebih cepat dan lebih berukuran lebih kecil dinilai lebih cocok digunakan untuk storage drive pada device portabel yang berukuran kompak dan umumnya memang tidak membutuhkan kapasitas penyimpanan terlalu besar.

Lantas, apakah SSD bisa dianggap sempurna dan mampu menggantikan HDD sepenuhnya? Belum tentu. Selain biaya produksi yang lebih mahal dan kapasitas penyimpanan relatif lebih kecil, ternyata SSD juga punya umur pakai.

Menentukan Umur Pakai SSD

Adanya umur pakai pada SSD adalah keterbatasan dari beberapa faktor antara lain adalah batas TBW (Terabytes Written), faktor usia komponen elektrikal, serta faktor eksternal lain. Lebih jelasnya akan kami jabarkan sebagai berikut.

1. Batas TBW (Terabytes Written)

Produsen SSD umumnya memberikan estimasi TBW pada produk mereka. Sebagai contoh, SSD dengan kapasitas 256 GB yang anda beli memiliki estimasi TBW sebesar 150 TB. Seandainya anda bereksperimen dengan menulis/mengisi data pada SSD tersebut dan menghapusnya sebesar 200 GB dalam satu hari, anda membutuhkan waktu 768 hari tanpa libur untuk mencapai estimasi TBW.

Selain itu, akumulasi TBW hanya dihitung ketika kita menulis/mengisi data (write) saja, sedangkan untuk membaca (read) data tidak dihitung. Jadi, sangat jarang SSD tidak bisa terpakai karena melewati batas estimasi TBW pada penggunaan normal. Jika kita sengaja melampai TBW untuk percobaan dan SSD tidak bisa digunakan lagi, maka akan sangat sulit untuk diperbaiki dan harus diganti.

Baca Juga: Mengapa SSD Lebih Cepat dari Harddisk?

2. Faktor Usia Komponen Elektrikal SSD

Saat ini, rata-rata umur pakai yang diklaim oleh produsen-produsen SSD adalah 10 tahun, meskipun banyak kasus komponen SSD rusak sebelum 10 tahun. Kerusakan karena usia pakai pada komponen penting seperti chip penyimpanan pada SSD akan mengakibatkan kerusakan pada SSD yang menyebabkan SSD tidak bisa digunakan pada beberapa bagian atau secara keseluruhan.

Jika terjadi kerusakan pada chip penyimpanan atau kontroler SSD, proses recovery data dan dari SSD akan lebih sulit dibandingkan dengan HDD. Jadi, SSD harus diganti dengan yang baru.

3. Faktor Eksternal Lain

Meskipun sama-sama berfungsi sebagai media penyimpanan, SSD memiliki cara kerja yang berbeda HDD. SSD hanya terdiri dari rangkaian elektronik sepenuhnya, tanpa komponen mekanikal seperti yang dimiliki HDD, sehingga secara ukuran lebih kompak dan lebih ringan.

Nah, dengan konstruksi dasar berupa rangkaian elektronik sepenuhnya tanpa membutuhkan cakram magnetik, SSD lebih tahan terhadap guncangan. Namun, SSD lebih rentan terhadap arus listrik berlebih misalkan terjadi short atau korsleting pada komponen internal laptop. Selain itu, secara fisik SSD juga lebih mudah patah atau rusak ketika terinjak.

Baca Juga: Mengganti Hard Disk Laptop dengan SSD

Kesimpulan

SSD memang merupakan media penyimpanan yang revolusioner dengan kecepatan transfer yang lebih baik serta dimensi yang lebih ringkas dan ringan. Keterbatasan pada umur pakai SSD pada dasarnya tidak menjadi masalah serius sesuai pada penggunaanya untuk penyimpanan yang ringkas dan praktis. Namun, pada penggunaan tertentu, SSD saat ini masih belum bisa menggantikan HDD sepenuhnya.

SSD ideal digunakan untuk media penyimpanan device portabel seperti laptop untuk membuat ukurannya lebih ringkas dan ringan agar memudahkan mobilitas. Namun, untuk server dengan kapasitas besar yang tidak terlalu membutuhkan kecepatan tinggi, HDD masih lebih cocok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *