Usaha Online : Jastip vs Dropshipper

Jastip vs dropshipper adalah dua metode penjualan online menitikberatkan peran sebagai perantara penjual asli dengan konsumen.

Di bidang bisnis online, ada dua istilah yang cukup familier, yaitu jasa titip atau jastip dan dropshipper. Apa sih pengertian dan perbedaan antara jastip vs dropshipper? Mana jenis usaha yang paling menguntungkan untuk pemilik dan yang lebih difavoritkan oleh konsumen online shop? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Mengenal Tentang Jasa Titip ; Keunggulan dan Kelemahannya

Jastip online adalah layanan jasa di mana pemilik bisnis membelikan barang, bisa berupa apa saja, yang dikehendaki konsumen. Kemudian, sebagai uang jasa, pembeli dikenakan biaya tambahan yang disebut sebagai ongkos jastip. Jangkauan dari item untuk jasa titip ini tidak hanya di dalam negeri, namun hingga ke mancanegara.

Pemilik jasa yang akan berangkat ke lokasi, bahkan jika perlu bersedia untuk mengantre, untuk membelikan pesanan konsumen. Untuk pengiriman ke pembeli bisa melalui kurir maupun diantar sendiri. Kondisi tersebut biasanya terjadi untuk toko-toko yang sedang atau memang populer. Lantas, apa sih keunggulan dari metode pembelian barang jastip seperti ini?

  • Tidak perlu datang langsung ke gerai yang menjual item yang diinginkan, apalagi kalau berbeda wilayah bahkan negara.
  • Cenderung hemat di ongkos daripada harus datang sendiri ke lokasi penjualan item. Terlebih jika harga barang lebih kecil dibandingkan dengan biaya perjalanan.
  • Hemat tenaga, tidak perlu berangkat sendiri dan mengantre.
  • Sangat membantu dalam membeli item dari toko yang tidak melayani penjualan secara online, hanya offline.

Sebelum membahas tentang jastip vs dropshipper, Anda perlu mengetahui dulu kekurangan dari jasa titip ini :

  • Kadang ongkos jasa titip yang dibebankan pada konsumen sangat besar. Apalagi jika penawar jasa bepergian secara pribadi ke lokasi di mana gerai item pesanan berada. Mereka memanfaatkan ongkos tersebut untuk meng-cover keseluruhan biaya perjalanan. Dengan kata lain tidak lebih dari upaya untuk liburan gratis.
  • Pembeli biasanya diwajibkan untuk membayar biaya DP lebih dulu. Jika pelaku jastip amanah, barang akan sampai sesuai pesanan dengan keadaan bagus. Tapi jika tidak, barang mungkin dibawa kabur.
  • Untuk barang-barang dari luar negeri, konsumen bisa ditagih untuk biaya tambahan kargo barang atau bea cukai. Tentunya dengan nominal yang lumayan besar.

Baca Juga: Bingung Antara Usaha Jasa Titip Atau Online shop?

Mengenal Tentang Dropshipper ; Keunggulan dan Kelemahannya

Dropshipper adalah penjual perantara. Secara sederhana, sistem dropshipper dalam bisnis online terjadi ketika pedagang bersangkutan memiliki toko di marketplace namun tidak menyimpan stok barang. Lalu, bagaimana bisa menyediakan item yang dipesan pembeli? Di situ peran penjual perantara ini yang sebenarnya. Dropshipper akan memesankan barang pada agen penyulai item terkait.

Jadi, skema penjualan dari sistem dropship bisa dibilang berantai :

  • Penjual perantara lebih dulu mencari toko penyuplai item yang menjual produk mereka dengan harga grosir. Mereka harus bersepakat jika produk akan dikirimkan atas nama toko dropshipper.
  • Kemudian, dropshipper mengalkulasi hingga mendapatkan harga ecer di mana ia mendapatkan keuntungan dari situ.
  • Dropshipper membuka gerai secara online di marketplace, memasang harga ecer, dan menunggu konsumen melakukan pemesanan.
  • Ketika ada konsumen yang membeli, ongkos kirim yang tertera adalah bea pengiriman dari agen penyuplai ke lokasi pembeli berada. Bukan dari tempat dropshipper
  • Setelah dilakukan pemesanan, konsumen membayar ke rekening penjual perantara di mana nanti baru dilanjutkan ke rekening agen. Tentunya setelah dipotong nominal keuntungan dropshipper

Tidak perlu buru-buru mengulas tentang jastip vs dropshipper, Anda perlu tahu dulu tentang keunggulan dari sistem penjualan melalui perantara ini :

  • Transaksi relatif lebih aman karena barang tetap langsung dikirimkan oleh penjual asli.
  • Meskipun membayar bea jasa melalui selisih harga jual asli dari agen, perbedaannya juga tidak terlalu besar.
  • Praktis karena biasanya semua transaksi dilakukan di situs marketplace.

Lalu, apa kelemahan dari sistem bisnis online dropship ini?

  • Pembeli tidak bisa komplain ke penjual jika item yang dikirimkan bermasalah karena bukan dropshipper langsung yang melayani.
  • Kadang-kadang agen yang dipilih lambat dalam memproses pesanan akibat overload. Tentunya hal ini merugikan baik dropshipper maupun konsumen.

Baca Juga: Rekomendasi Bidang Bisnis Online Tanpa Modal

Membandingkan Antara Jasa Titip dengan Dropshipper

Selanjutnya adalah perbandingan, baik persamaan hingga perbedaan kedua sistem usaha online ini. Adapun persamaan antara keduanya sangat mudah untuk diuraikan :

  • Pemilik usaha jastip maupun dropshipper sama-sama bukan penjual langsung item yang ditawarkan. Teknisnya posisi mereka sama, yakni perantara barang antara penjual asli dengan konsumen.
  • Konsumen tidak dapat komplain terhadap item yang dipesan pada pihak jasa titip dan dropshipper. Sebab, barang yang ditawarkan saja bukan produksi mereka sendiri.
  • Jastip dan dropshipper sama-sama membebankan biaya tambahan pada konsumen untuk jasa yang mereka tawarkan.
  • Jangkauan item yang ditawarkan sangat luas, bisa secara domestik hingga internasional.
Dengan perkembangan pesat teknologi di bidang e-commerce, Anda dapat memulai usaha online shop sendiri dari nol, bahkan tanpa modal!
Membuka lapak online shop memang sedang marak dan membuka banyak sekali peluang. Akan tetapi, memulai usaha “jasa titip” atau “dropship” juga tak kalah menarik mengingat modal yang dibutuhkan lebih sedikit tanpa perlu menyiapkan stok barang.

Lantas, apa sih perbedaan jastip dengan dropshipper?

  • Pelaku jasa titip harus berangkat sendiri ke lokasi penjualan item yang dikehendaki pembeli, sedangkan untuk dropshipper Sebab, penjual perantara cukup meneruskan pesanan pada agen di mana pihak tersebutlah yang kemudian menyiapkan dan mengirimkan pesanan konsumen.
  • Pebisnis jastip tetap harus memiliki modal usaha, minimal biaya perjalanan dan biasanya membelikan barang pesanan konsumen dari kantong pribadi sebelum nantinya pembayaran dilunasi pembeli. Sedangkan untuk dropshipper hampir tidak memerlukan biaya bahkan tenaga. Sistem usaha dropship dapat dimulai tanpa biaya.
  • Selanjutnya, beda jastip vs dropshipper yaitu pelaku jasa titip masih bisa mengecek barang sebelum membelinya karena langsung berada di lokasi. Sedangkan dropshipper tidak bisa. Jadi, item yang dibeli oleh jastip masih bisa dikomplain walaupun mungkin jarang ditanggapi, sedangkan dropshipper tidak sama sekali.

Baca Juga: Tips Berkompetisi dalam Online Shop Internasional

Mana Yang Lebih Menguntungkan dan Disukai Konsumen?

Di antara dropshipper dengan jasa titip, jenis usaha mana yang membawa keuntungan lebih besar untuk pelakunya? Pertanyaan tersebut pasti tebersit di benak Anda. Jawabannya adalah 50 : 50. Keduanya sama-sama bisa membawa keuntungan besar, namun bergantung pada sistematika penjualan yang ditawarkan oleh pelaku bisnis terkait.

Dropshipper bisa mendapatkan keuntungan besar tanpa mengeluarkan biaya maupun tenaga, tapi memiliki banyak pesaing dan item yang ditawarkan mudah dijangkau pihak lain. Sedangkan jastip juga dapat mendatangkan untung yang bahkan bisa menutupi biaya perjalanan, tentunya jika pesanan yang diterima semakin banyak. Namun modalnya besar, tapi item yang ditawarkan tidak biasa.

Sementara dari sisi konsumen sendiri, biasanya tidak merasa condong pada salah satu di antara kedua model usaha online tersebut. Jika mencari produk yang tidak dijual secara online, tentu mereka sangat terbantu dengan adanya jastip. Sementara bila barang tersebut dijual online tapi kalangan terbatas, dropshipper menjadi solusi yang tepat.

Jadi, dari ulasan jastip vs dropshipper di atas, dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki keunggulan maupun kelemahan. Namun tujuan sistem penjualan seperti demikian sama-sama mempermudah konsumen dalam mendapatkan item yang diinginkan. Tentunya sekaligus mengais rezeki dari jasa yang sudah dikerjakan. Pada akhirnya, pemilihan menggunakan kedua jasa tersebut berada di tangan konsumen.

Related Post

Saham : Mencari Keuntungan dari Dividend atau Capi... Jika membuat daftar keuntungan dividend vs capital gain, kira-kira mana yang lebih recommended? Temukan jawabannya di sini… Dunia saham memang sangat...
Ojek Online: GOJEK vs GRAB Sebagai layanan transportasi online yang sedang digandrungi, gojek vs grab memiliki perbedaan berikut! Gojek dan grab merupakan startup jasa trasport...
Perlukah Asuransi Tambahan Selain BPJS? Perlukah asuransi tambahan selain BPJS? Sebelum membahas lebih jauh masalah ini, simak uraian mengenai BPJS berikut ini lebih dulu. Memang kehadiran ...
Macam-macam Instrumen Investasi dan Karakteristikn... Instrumen investasi adalah macam-macam objek yang perlu dipahami oleh para investor agar dapat meminimalisir risiko kerugian. Ketika hendak berinvest...
Cara Menabung Saham Di BRI Dan Keuntungan Yang Did... Untuk menabung saham bisa dilakukan pada perusahaan atau pun bank, salah satunya bank yang terkenal di Indonesia adalah bank BRI. Kegiatan menabung sa...
Pentingnya Melakukan Diversifikasi Pengelolaan Kek... Mengelola kekayaan tidak semudah yang kita bayangkan. Fokus dalam satu bidang saja mungkin baik bagi sebagian orang, namun tidak bagi sebagian lainnya...
Usaha dengan Kriteria Apa Saja Sih yang Dikategori... Aktivitas sehari-hari kita tidak terlepas dari berbagai layanan jasa dan barang para pelaku UMKM. Potret UMKM dalam negeri menunjukkan bahwa bidang UM...
Peluang Bisnis Afiliasi yang Menjanjikan Peluang bisnis afiliasi dapat mendatangkan banyak keuntungan. Apa saja keuntungannya? Simak ulasan berikut ini. Memiliki penghasilan tambahan bisa di...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *