Tips Impor Barang dengan Aman dan Mudah

Ada 8 tips impor dari luar negeri yang patut Anda ketahui; memilih Co-Partner, asuransi barang,dll. Simak terus dalam artikel ini!

Apakah Anda sedang memulai bisnis dan membutuhkan informasi mengenai tips impor dari luar negeri? Ketika pertama kali Anda hendak mengimpor barang dari luar negeri, ada beberapa tips yang harus dilakukan. Tips impor dari luar negeri ini harus dilakukan dengan benar dan runut  sehingga bisnis yang  digeluti dapat berjalan dengan baik.

Co-Partner

Tips impor dari luar negeri yang pertama adalah menemukan Co-Partner. Co-Partner adalah eksportir yang mampu menyediakan suplai produk yang dibutuhkan oleh importir, baik berupa jenis ataupun tipe produk yang diinginkan.

Jika Anda adalah importir pemula yang belum memiliki Co-Partner, dapat mendatangi Kantor Dagang Industri (KADIN). Dapat pula menghubungi Kantor Dagang Industri Daerah (KADINDA) yang ada di tingkat Provinsi. Selain itu juga bisa ke Panjatapda (Panitia Kerja Tetap Daerah) yang ada di tingkat Provinsi. Di sini, Anda akan mendapatkan daftar Co-Partner yang bisa dipilih sesuai dengan produk yang diinginkan.

Baca Juga: Strategi Marketing untuk Meningkatkan Penjualan Online Shop

Menentukan Harga dan Sistem Dagang

Saat Anda telah menemukan Co-Partner, langkah selanjutnya adalah menentukan harga serta sistem dagangnya. Pengaturan mengenai harga dan sistem dagang yang hendak digunakan, berpengaruh pada berakhirnya hak dan kewajiban dari supplier.

Selain itu di dalam sistem dagang terdapat beberapa istilah yang wajib Anda ketahui, seperti berikut ini:

  • FOB (Free on Board)

Istilah ini bermakna bahwa, jika pemasok menggunakan sistem FOB. Hal ini bermakna bahwa, segala ongkos kirim (Ocean Freight), asuransi, dan harga pembelian barang. Pembayaran barang dilakukan saat kapal telah ada di pelabuhan.

  • CFR (Cost and Freight)

Pemasok melakukan penyerahan barang, setelah melewati batas pagar di pelabuhan. Selain itu barang dari pemasok juga telah mendapatkan izin ekspor. Namun, segala biaya yang berkaitan dengan masalah angkutan hingga sampai ke pelabuhan. Merupakan kewajiban jadi pihak pemasok.

  • CIF (Cost Insurance and Freight)

Sistem dagang ini menuntut Anda untuk membayar biaya pembelian barang, termasuk asuransi dan harga barang. Dan kewajiban ini harus sudah selesai dilakukan sebelum kapal pemasok berlabuh di pelabuhan muat.

  • DDP (Delivered Duty Paid)

Di sistem ini, Anda memiliki hak untuk menentukan wilayah penyerahan barang oleh pemasok. Selain itu, wilayah tersebut haruslah berada dalam wewenang Anda. Selain itu sistem ini juga mensyaratkan agar segala formalitas yang berhubungan dengan kepabeanan telah diselesaikan oleh pemasok.

  • FAS (Free Alongside Ship)

Sistem ini mensyaratkan agar pemasok menanggung biaya serta risiko pengiriman. Selain penyerahan barang juga harus dilakukan di samping kapal yang ada di pelabuhan pengapalan. Syarat penyerahan barang adalah telah memiliki izin ekspor dan berbagai syarat kepabeanan lainnya.

Perhatikan tabel Incoterm 2010 ini. Tabel ini menentukan tanggung jawab antara eksportir dan importir.
Perhatikan tabel Incoterm 2010 ini. Tabel ini menentukan resiko transaksi yang menjadi tanggung jawab antara eksportir dan importir.

Menetapkan Cara Sekaligus Biaya Pengiriman

Setelah Anda melakukan penetapan sistem dagang dan harga, yang harus dilakukan kemudian adalah menentukan cara dan biaya pengiriman. Agar dapat menentukan biaya pengiriman, mintalah kepada pemasok untuk menjelaskan secara akurat tentang dimensi barang. Selain itu, bobot barang dan ketentuan perdagangan pun harus Anda ketahui Sepang pasti. Segala data tersebut kemudian diinformasikan kepada perusahaan pengangkutan.

Bagi Anda yang membeli barang dengan menggunakan dasar Ex Works (penyerahan barang dilakukan di wilayah kewenangan pemasok). Maka, Anda sebagai importir wajib memberitahukan kepada perusahaan pengangkutan mengenai alamat barang, dan kondisi penjemputan di lokasi barang berada.

Menentukan Freight Forwarder

Cara import mudah berikutnya adalah menentukan atau memilih Freight Forwarder (jasa pengiriman). Pilih jasa pengiriman yang profesional sehingga dapat membantu untuk melakukan pengurusan syarat yang berhubungan dengan dokumen dan kepabeanan.

Freight Forwarder juga bertugas mengurus segala kebutuhan logistik seperti negosiasi mengenai tarif angkut. Serta mengurus masalah bea cukai, asuransi, dan proses pengiriman. Perusahaan pengangkutan yang Anda pilih, dapat mengirimkan barang sesuai dengan waktu yang disepakati serta dengan biaya yang efisien.

Baca Juga: Belanja Online, Siapa Takut?

Pilih Cara Pengiriman Barang yang Menguntungkan

Berikut 3 cara pengiriman barang yang bisa Anda pilih:

  • Ocean Freight (Laut)

Metode pengiriman melalui lain ini bisa digunakan untuk volume pengiriman barang dalam jumlah besar.  Dapat pula dipakai untuk proses pengiriman barang yang tidak memerlukan waktu yang cepat.

  • Air Freight (Udara)

Cara pengiriman barang saya ini, cocok untuk Anda yang membutuhkan waktu pengiriman singkat dan mendesak.  Pengiriman barang dalam jumlah yang kecil, juga dapat menggunakan cara pengiriman satu ini.

  • Truk dan Kereta Api (Darat)

Cocok untuk pengiriman barang dalam jumlah besar, namun tidak membutuhkan waktu sampai yang cepat.

Asuransi Barang

Ketika barang yang Anda pesan sedang di dalam perjalanan, terkadang ada banyak aral atau bahkan hal-hal yang tidak terduga lainnya. Itu sebabnya, sangat penting untuk mengasuransikan barang tersebut. Untuk memudahkan, poin mengenai pemberian asuransi dapat dimuat pada kontrak penjualan/ Letter of Credit.

Pahami Aturan Kepabeanan

Menjadi seorang importir, Anda diwajibkan untuk mengetahui bedengan jelas segala peraturan kepabeanan. Hal ini juga berlaku untuk barang yang memerlukan dokumen tertentu yang didapatkan dari negara asal. Agar proses pengiriman barang tidak mengalami kendala yang berarti.

Tentukan Cara Pembayaran

Berikut beberapa cara pembayaran yang bisa dipilih:

  • Transfer Antar Bank

Sistem ini memungkinkan transfer dana ke rekening pemasok, dan kemudian akan diteruskan dengan pengiriman barang. Meskipun sistem pembayaran satu ini paling sering digunakan, namun juga memiliki risiko. Risiko yang biasanya ditemukan adalah pemasok melakukan wanprestasi atau ingkar janji.

  • Credit Card

Sistem pembayaran dengan menggunakan kartu kredit hanya dapat digunakan jika pemasok memiliki perjanjian internasional dengan perusahaan kartu kredit. Pastikan kartu kredit yang digunakan valid.

Perlu Anda perhatikan bahwa sistem pembayaran dengan menggunakan kartu kredit pun memiliki risiko. Salah satu risiko yang mungkin terjadi adalah adanya peluang penipuan.

  • Wesel Inkaso

Sistem pembayaran wesel Inkaso, memberikan hak pengawasan barang hingga wesel kepada pemasok. Sistem pembayaran satu ini juga termasuk tips impor dari luar negeri. Dalam hal ini pemasok (penarik wesel) dapat langsung mengapalkan barang. Namun, segala dokumen kepemilikan barang harus dikirim kepada Anda atau bank importir Anda.

Penyerahan dokumen ini didasarkan pada D/P (Document Against Payment). Peraturan ini memuat mengenai kewajiban penyerahan dokumen jika Anda telah melakukan pembayaran.

Selain Document Against Payment, penyerahan dokumen juga didasarkan pada D/A (Document Against Acceptance). Hal ini mensyaratkan agar ada penyerahan dokumen jika Anda telah mengakses wesel.

  • L/C (Letter of Credit)

Sistem pembayaran menggunakan L/C juga termasuk metode yang paling sering digunakan dalam transaksi perdagangan internasional. Pada dasarnya sistem pembayaran ini adalah sebuah janji yang Anda beri kepada pemasok. Bahwa, akan melakukan pembayaran barang dalam waktu tertentu.

Pembayaran dengan sistem ini juga terbilang cukup aman. Hanya saja sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan metode pembayaran lainnya.

Perhitungan Bea Masuk dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor)

Dasar pengenaan Bea Masuk adalah Nilai Pabean, sedangkan dasar pengenaan PDRI adalah Nilai Impor. Nilai impor adalah nilai pabean ditambah dengan bea masuk. Tarif bea masuk ditentukan oleh klasifikasi dalam kode HS di BTKI (Buku Tarif Kepabeanan Indonesia). Google: BTKI 2017

Nilai pabean dihitung dari CIF (Cost/FOB + Insurance + Freight), lihat tabel incoterm 2010 di atas. Intinya, semua biaya yang dibayarkan hingga barang sampai ke daerah pabean (misal: pelabuhan bongkar).

Contoh Perhitungan Bea Masuk dan PDRI:

Anda membeli barang senilai 1000 USD (harga barang sampai dengan pelabuhan muat negara asal) dengan biaya ocean freight 90 USD dan asuransi luar negeri 10 USD. Misalkan kurs USD terhadap Rupiah sebesar 14 ribu, tarif bea masuk barang yang anda impor sebesar 5%, PPN impor 10%, PPh impor 2.5%. Maka dapat dihitung sebagai berikut:

  • Nilai Pabean = FOB + Freight + Insurance
  • Nilai Pabean = 1000 USD + 90 USD + 10 USD
  • Nilai Pabean = 1100 USD = Rp 15.400.000
  • Bea Masuk = Rp 15.400.000 x 5% = Rp 770.000
  • Nilai Impor = Nilai Pabean + Bea Masuk
  • Nilai Impor = Rp 15.400.000 + Rp 770.000 = Rp 16.170.000
  • PPN Impor = 10% x Rp 16.170.000 = Rp 1.617.000
  • PPh Impor = 2.5% x Rp 16.170.000 = Rp 404.250
  • Total Bea Masuk dan PDRI yang harus dibayar:
  • Rp. 770.000 + Rp 1.617.000 + Rp 404.250 = Rp 2.791.250

Jika asuransi dilakukan melalui asuransi dalam negeri dan dapat ditunjukkan dengan bukti valid, maka asuransi tidak perlu ditambahkan.

Baca Juga: Tips Aman Belanja Online

Demikian tips impor dari luar negeri dalam artikel kali ini. Pastikan ketika Anda memilih Co-Partner yang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi. Sehingga kerugian dalam bisnis dapat dihindarkan.

2 thoughts on “Tips Impor Barang dengan Aman dan Mudah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *